Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Ellen Esther Pelealu, menyoroti paradoks kesejahteraan nelayan dalam Forum Diskusi Hari Nelayan Nasional 2026 yang diinisiasi Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono.
Bertema Kesejahteraan Nelayan Indonesia: Optimalisasi Ekonomi Biru dan Pemanfaatan Kekayaan Laut Berkelanjutan forum yang dilaksanakan, Senin, 6 April 2026 ini, mengupas prestasi gemilang perikanan nasional yang kontras dengan kesejahteraan nelayan kecil yang masih tertinggal.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi perikanan tangkap 2025 mencapai 7,85 juta ton, dengan nilai ekspor hasil perikanan Rp106,68 triliun – naik 5,2% year-on-year. Komoditas tuna-cakalang sumbang Rp17,7 triliun atau 16,5% dari total ekspor. Pasokan ikan Januari-Maret 2026 pun surplus: produksi 3,57 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 1,94 juta ton, didukung 2.287 unit cold storage berkapasitas 899 ribu ton.

Rencana Kerja (Renja) KKP 2026 semakin ambisius: PDB sektor perikanan Rp626,04 triliun, volume produksi 25,84 juta ton, dan ekspor Rp114 triliun. Target ini menegaskan ekonomi biru sebagai kerangka resmi kebijakan nasional.
Namun, Nilai Tukar Nelayan (NTN) masih menjadi pekerjaan rumah berat. Pada 2025, NTN hanya 103,89 – di bawah target 105. Baru pada Februari 2026 naik tipis ke 108,34, atau kenaikan 0,35% dari Januari.
“Stok ikan berlimpah tidak otomatis berarti harga bagus di tangan nelayan kecil,” tegas Ellen Esther Pelealu dalam keterangan resmi, Kamis, 9 April 2026.
Ia menyoroti harga tuna yang anjlok dari Rp60.000/kg menjadi Rp18.000–40.000/kg akibat praktik tata niaga yang dikuasai tengkulak.
Ellen menegaskan Komisi IV DPR RI berkomitmen mengawal implementasi ekonomi biru agar nelayan sejahtera, laut tetap lestari, dan protein ikan menjadi pilar kuat ketahanan pangan nasional.
“Kesejahteraan nelayan tidak boleh hanya diukur dari angka produksi atau ekspor, tetapi harus terasa pada pendapatan bersih, akses BBM, harga ikan di tingkat nelayan, dan keselamatan kerja di laut,” ujarnya.
Laporan: Muhammad Rafik
( sumber : kedaipena.com )




