
Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, menghadiri Peringatan Hari Guru Nasional 2025 bertajuk "Guru Penjaga Masa Depan Bangsa: Memperkuat Karakter, Ilmu, dan Demokrasi" di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta. Acara ini diikuti lebih dari 600 guru baik secara fisik maupun daring dari penjuru Indonesia.
Pada kesempatan ini, Edhie Baskoro menyampaikan apresiasi mendalam atas peran guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membentuk karakter generasi penerus di era perubahan teknologi yang begitu cepat. Ia menegaskan bahwa guru adalah penjaga masa depan bangsa, pilar utama pendidikan yang menentukan kualitas dan arah kemajuan Indonesia ke depan. Karena itu, peningkatan keterampilan guru, digitalisasi pembelajaran, serta kesejahteraan dan perlindungan profesi guru harus menjadi prioritas dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutannya, lulusan Program Doktor S3 IPB University tersebut mengawali dengan memberikan penghormatan penuh kepada seluruh guru yang telah berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. “Selamat Hari Guru! Tepatnya tanggal 25 November 2025. Applause untuk guru-guru hebat,” ucap Ibas, memberikan momen apresiasi kepada seluruh guru di Indonesia yang disambut tepuk tangan meriah para 450 peserta yang hadir secara fisik di Gedung Nusantara V, “Rumah Rakyat” tempat aspirasi bangsa diperjuangkan.
Ibas menekankan pentingnya peran guru sebagai pilar utama dalam tujuan bernegara. “Hari ini kita berkumpul untuk menghargai peran luar biasa para guru di seluruh Indonesia. Yang telah menjadi bagian dari tujuan bernegara,” tuturnya sembari mengutip amanat Konstitusi Pasal 31 UUD NRI 1945 mengenai hak pendidikan bagi seluruh warga negara. Menurutnya, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk masa depan bangsa. “Guru adalah cahaya yang menuntun perjalanan hidup generasi penerus bangsa. Guru, membentuk dan menuntun masa depan bangsa ini.”
Ibas menegaskan apresiasi Partai Demokrat terhadap peran guru lintas wilayah Indonesia. “Kami, Fraksi Partai Demokrat mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru… dari desa, kota, pesisir, pegunungan, hingga wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal),” ucapnya. “Hari Guru adalah momen untuk mengingat kembali betapa berharganya peran guru dalam hidup kita. Meskipun bekerja dalam diam, jasanya terasa sepanjang hayat.” Pernyataan tersebut kembali disambut dengan tepuk tangan panjang dari peserta.
Lebih lanjut, lulusan S2 Nanyang Technological University (NTU) Singapura ini menegaskan komitmen Fraksi Partai Demokrat untuk terus mengawal peningkatan kesejahteraan guru, termasuk perlindungan profesi dan kepastian status kerja yang layak. Ia menekankan pentingnya penguatan kompetensi melalui pelatihan berkelanjutan yang adaptif terhadap perkembangan era digital, terutama bagi guru SD yang berperan besar dalam membangun fondasi karakter anak sejak dini. Pendekatan pembelajaran menyenangkan dan berkarakter (fun learning berkarakter) diyakini menjadi kunci untuk menciptakan generasi unggul—cerdas secara akademik, kuat secara moral, serta berdaya saing dalam menghadapi masa depan.
Ia menambahkan bahwa guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai moral yang menjadi fondasi bangsa. Di tengah tantangan digital dan perubahan budaya saat ini, menurut Edhie Baskoro, guru tetap menjadi kompas bangsa. “Di era perubahan yang cepat, guru menjadi penuntun arah, memastikan setiap anak bisa menapaki jalan yang benar. Oleh karena itu, menjaga guru sama artinya menjaga masa depan bangsa.”
Tantangan guru hari ini besar: teknologi bergerak cepat, fasilitas tidak merata, dan nilai anak-anak diuji oleh perubahan budaya. Namun, peran guru tetap vital: membangun karakter, literasi digital, toleransi, kreativitas, dan interaksi. Serta menjaga nilai Pancasila dan meningkatkan rasa cinta tanah air,” ungkap Anggota Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia ini.
Karena itu, ia menyerukan dukungan nyata terhadap profesi guru. “Kita berharap guru mendapatkan pelatihan, dukungan, kesejahteraan, dan perlindungan kerja yang layak. Karena guru yang kuat berarti pendidikan yang kuat. Dan itulah jalan menuju Indonesia Emas 2045!” serunya penuh semangat.
Menutup sambutannya, Ibas kembali meneguhkan keyakinan dan harapan bagi masa depan bangsa. “Jika satu guru bisa mengubah satu anak, dan perubahan itu dapat memengaruhi masa depan Indonesia. Bayangkan jika ribuan anak terinspirasi, maka Indonesia akan semakin hebat. Terima kasih guru, jangan pernah lelah memajukan anak bangsa menuju Generasi Emas.” tutupnya, disambut tepuk tangan apresiatif seluruh peserta yang hadir.
Acara ini juga menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan pandangan dan inovasi terkait dunia pendidikan. Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Supriadi, M.Pd., memperkenalkan pengembangan Etnomatematika dengan teknologi digital sebagai metode adaptasi Kurikulum Merdeka berbasis budaya. “Pembelajaran dengan aplikasi mobile ataupun etnomatematika melalui permainan endog-endogan, engklek dan congklak, dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematik dan dapat dijadikan bahan ajar untuk guru dan siswa SD di kelas,” sebutnya.
Narasumber Galih Sulistiyaningra, founder dari aplikasi pendidikan Smartick, menjelaskan pengembangan aplikasi sebagai pembelajaran berbasis digital. “Dengan integrasi Smartick Indonesia dalam pembelajaran literasi numerasi di sekolah, siswa dapat mengunakannya setiap hari. Hingga kini, aplikasi kami digunakan lebih dari 800 siswa di 3 provinsi Indonesia untuk rutin belajar harian dan pengayaan digital,” pungkas Galih.
Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Komarudin, M.Si., menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter dan kebangsaan sejak usia dini berkelanjutan melalui integrasi Empat Pilar MPR RI. Ia pun merekomendasikan beberapa poin untuk pendidikan karakter. “Penguatan kapasitas guru, kurikulum pembelajaran yang tematik dan fleksibel, kultur sekolah pancasila, sistem evaluasi, penguatan kemitraan sekolah, penyediaan ruang bermain, dan kolaborasi MPR RI-perguruan tinggi LPTK,” tuturnya.
Salah satu peserta, Cecep Rudi Hartono, Kepala Sekolah SDN 2 Selawi Purwakarta, menyampaikan aspirasi terkait peningkatan kesejahteraan guru, percepatan sertifikasi bagi guru honorer, serta perlindungan hukum agar tenaga pendidik tidak mudah terjerat pidana dalam menjalankan tugas. Ia juga menyampaikan kerinduan terhadap masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dinilai memberikan perhatian besar pada kesejahteraan guru.
Selain itu, turut hadir jajaran anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, antara lain Drs. Sabam Sinaga, M.M. selaku Kapoksi X yang juga menjadi moderator, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., Bramantyo Suwondo, M.IR., Anita Jacoba Gah, S.E., Iman Adinugraha, S.E., Akt., C.A., Zulfikar Hamonangan, S.H., Nurwayah, S.Pd., H. Fathi, serta Rizki Aulia Rahman Natakusumah, M.Sc. selaku Ketua BURT DPR RI. Kehadiran para anggota ini menunjukkan komitmen kuat Partai Demokrat dalam mengawal kebijakan pendidikan yang semakin memajukan guru dan para pelajar di seluruh Indonesia.
( sumber : fpd-dpr.com )




