Pimpinan MPR dorong penguatan energi dan ekonomi imbas Timur Tengah

Selasa, 03 Maret 2026 13:35

eby timur

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan energi dan ekonomi nasional imbas eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Ibas, sebagaimana keterangan tertulis diterima di Jakarta, Selasa, mengatakan situasi tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

"Dunia hari ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Ketika konflik bersenjata terjadi di pusat energi dunia, dampaknya menjalar ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita harus waspada, responsif, dan strategis," ucapnya.

Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, inflasi global, dan keamanan kawasan.

Secara spesifik, Ibas menyoroti Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan energi vital di dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur sempit ini, eskalasi konflik berisiko memicu hambatan distribusi atau bahkan penutupan jalur.

Selat Hormuz, imbuh dia, adalah urat nadi bagi 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, sekaligus jalur utama bagi gas alam cair (LNG) dari Qatar. Jika stabilitas di selat tersebut terganggu, dunia akan menghadapi kejutan pasokan.

"Bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka di pasar bursa, melainkan ancaman nyata terhadap biaya operasional industri dan ketersediaan BBM di tingkat ritel. Kita harus sadar bahwa gangguan di selat tersebut dapat melambungkan harga minyak mentah jauh di atas asumsi makro APBN kita," ucap Ibas.

Selain minyak mentah, dia menyebut gangguan di jalur itu juga akan berdampak pada rantai pasok global secara sistemis. Sebab, lonjakan biaya asuransi pengiriman dan pengalihan rute kapal tanker akan meningkatkan biaya logistik internasional secara signifikan.

Kondisi itu disebut akan memicu efek berantai pada harga barang impor dan bahan baku industri di dalam negeri yang pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan sektor manufaktur nasional.

Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia.

Ibas memprediksi kenaikan harga energi global dapat memicu rantai dampak negatif, seperti tekanan pada APBN, inflasi sektor pokok, penurunan daya beli hingga hambatan ekspor dan impor.

"Kita harus mengantisipasi dampak rambatan ekonomi global ini dengan langkah yang terukur dan kebijakan yang tepat sasaran demi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.

Menyikapi dinamika itu, Ibas menekankan Indonesia tidak boleh sekadar reaktif, tetapi perlu melakukan langkah strategis, di antaranya lewat penguatan ketahanan energi, stabilitas ekonomi dan perlindungan rakyat, serta melakukan diplomasi aktif dan konsisten.

Ia lebih lanjut mengingatkan konstitusi mengamanatkan bangsa Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Nilai-nilai Pancasila, seperti kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan, harus menjadi kompas moral diplomasi.

"Indonesia tidak boleh terjebak dalam polarisasi global. Kita adalah bangsa besar yang konsisten menolak perang dan kekerasan. Kita harus menjadi bangsa yang kokoh dalam nilai, kuat dalam ekonomi, dan bijak dalam diplomasi," ujarnya.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, parlemen, pelaku usaha hingga masyarakat untuk memperkuat persatuan nasional dan semangat gotong royong. Diyakininya, stabilitas dalam negeri adalah kunci utama menghadapi guncangan eksternal.

"Di tengah gejolak geopolitik global, Indonesia harus berdiri teguh sebagai jangkar stabilitas dan suara moral bagi perdamaian dunia," ucap Ibas.

Potensi Perang Dunia

Menarik untuk ditakar apakah serangan AS-Israel yang brutal tersebut juga dapat menimbulkan Perang Dunia III?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu bukanlah semudah membalik telapak tangan. Ada berbagai serangkaian respons baik secara politik-militer maupun aspek kemasyarakatan lainnya yang penting.

Harus diakui bahwa saat ini konflik tersebut masih terbatas kepada perang regional, di mana Iran menghadapi serangan terhadap berbagai infrastruktur dalam negeri oleh duet AS-Israel.

Tentu saja selaras hukum Newton, di mana ada aksi pasti ada reaksi, Iran juga telah menyasar berbagai lokasi yang disebut sebagai lokasi infrastruktur militer AS di kawasan.

Tindakan aksi-reaksi itu tentu saja tidak membentuk perang global, karena perang dunia membutuhkan keterlibatan langsung beberapa kekuatan besar di berbagai medan pertempuran.

Sejumlah langkah yang dapat terjadi yang dapat meningkatkan eskalasi di kawasan Timur Tengah menjadi konfrontasi yang lebih luas dan berpotensi global, antara lain adalah adanya intervensi secara langsung dan terbuka oleh Rusia atau China.

Jika saja Rusia memberikan dukungan militer kepada Iran di luar pengiriman senjata—seperti mengerahkan awak pertahanan udara, pesawat tempur, atau aset angkatan laut—bentrokan langsung dengan pasukan AS dapat terjadi, yang secara dramatis dapat meningkatkan status konflik menjadi jauh lebih signifikan.

Demikian pula, bila misalnya terjadi keterlibatan secara nyata dilakukan oleh militer China, khususnya di Teluk Persia atau melalui operasi proksi, maka hal tersebut dapat memperkenalkan kekuatan global kedua ke dalam pertempuran aktif, serta meningkatkan risiko eskalasi di berbagai front.

Namun, baik Rusia maupun China pada saat ini telah menunjukkan bahwa mereka lebih ingin adanya penurunan ketegangan.

Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa Rusia menyerukan deeskalasi segera, penghentian pertempuran, serta pemulihan proses politik dan diplomatik guna menyelesaikan permasalahan yang ada berdasarkan Piagam PBB dan Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir, yang mempertimbangkan kepentingan sah seluruh negara-negara yang terdapat di kawasan Teluk.

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan negaranya sangat prihatin atas serangan AS-Israel dan mendesak penghentian segera aksi militer tersebut.

Pemerintah China juga meminta semua pihak mencegah eskalasi lebih lanjut dan melanjutkan kembali proses dialog atau negosiasi, serta menunjukkan upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

Senada, banyak respons di tingkat elite global sebenarnya sebagian besar lebih bersifat diplomatik, yang diwarnai antara lain dengan kecaman, seruan untuk menahan diri, dan keprihatinan kemanusiaan yang mendominasi pernyataan yang disampaikan secara terbuka kepada publik.

Risiko rendah

Singkatnya, risiko Perang Dunia III bukannya nol atau tidak ada, tapi risikonya dinilai rendah dalam jangka pendek.

Dengan kata lain, tanpa adanya langkah yang salah perhitungan atau tindakan provokatif signifikan lanjutan yang melibatkan kekuatan besar lainnya, maka konflik tersebut, seberapa pun parahnya, kemungkinan besar akan tetap bersifat regional dan bukan global.

Mencegah eskalasi lebih lanjut dan mendorong stabilitas jangka panjang di Timur Tengah membutuhkan tindakan terkoordinasi dari semua pemangku kepentingan — AS, Israel, Iran, negara-negara Arab, mediator regional, dan lembaga multilateral.

Pertama dan terpenting, segala tindakan permusuhan harus segera dihentikan, sehingga baik AS maupun Israel wajib menghentikan operasi ofensif, sementara Iran harus menahan serangan balasan, dengan fokus pada respons yang proporsional.

Gencatan senjata, yang didukung oleh mekanisme pemantauan yang kredibel, dapat menciptakan ruang yang diperlukan untuk diplomasi dengan perspektif baru.

Perlu pula untuk segera dipilih mediator yang terbukti dapat berperan sebagai fasilitator netral untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dan keamanan regional.

Adapun berbagai aktor regional, khususnya negara-negara Teluk dan Turki, harus fokus pada pencegahan tanpa provokasi, memperkuat pertahanan, dan mempersiapkan diri untuk potensi masuknya pengungsi tanpa mengobarkan konflik baru.

Selain itu, PBB harus dapat memperkuat hukum internasional dengan menuntut penghormatan terhadap perlindungan sipil, menyerukan bantuan kemanusiaan segera, dan mengoordinasikan tekanan diplomatik untuk menjaga perdamaian.

Beragam bentuk insentif ekonomi, seperti pengurangan sanksi sebagian atau integrasi perdagangan, dapat lebih memotivasi Iran dan aktor regional untuk berkomitmen pada stabilitas kawasan.

Dengan menggabungkan pengekangan militer, keterlibatan diplomatik, kerangka kerja keamanan regional, insentif ekonomi, dan koordinasi kemanusiaan, pihak-pihak yang terlibat dapat mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.

Meskipun jalan untuk mencapai berbagai hal tersebut dapat disebut sangat terjal serta super sulit, tapi konsistensi terhadap koordinasi berbagai tindakan yang telah disebut guna menstabilkan kawasan serta menegakkan norma-norma internasional, akan dapat mencegah kemungkinan bencana konfrontasi global. 

 

( sumber : kalsel.antaranews.com )


Berita Lainnya

Nasional

Fraksi Partai Demokrat bersama Relawan Laskar Muda Zulfikar Suhardi Gelar Aksi Sosial Berbagi Takjil kepada Masyarakat

Nasional

Gerakan Pangan Murah Tekan Pengeluaran Warga Jelang Lebaran

Nasional

Reses di Mamuju, Anggota DPR RI Zulfikar Suhardi Serap Aspirasi dan Bagikan Sembako

Nasional

Serap Aspirasi Masyarakat, Anggota DPR RI Muh Zulfikar Suhardi Gelar Reses di Kasiwa

Nasional

Perkuat Diplomasi Parlemen dan Partisipasi Masyarakat, BKSAP Dukung Aksesi Indonesia ke OECD

Nasional

H.T. Ibrahim Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan Pada Acara Sosialisasi Empat Pilar

Nasional

Zulfikar : Geopolitik Global Pengaruhi Fluktuasi Harga Pupuk di Indonesia

Nasional

Tenteng RUU Adminduk ke Unpad, Dede Yusuf Buka Konsultasi Publik Bareng Akademisi

Berita: Nasional - Fraksi Partai Demokrat bersama Relawan Laskar Muda Zulfikar Suhardi Gelar Aksi Sosial Berbagi Takjil kepada Masyarakat •  Nasional - Gerakan Pangan Murah Tekan Pengeluaran Warga Jelang Lebaran •  Nasional - Reses di Mamuju, Anggota DPR RI Zulfikar Suhardi Serap Aspirasi dan Bagikan Sembako •  Nasional - Serap Aspirasi Masyarakat, Anggota DPR RI Muh Zulfikar Suhardi Gelar Reses di Kasiwa •  Nasional - Perkuat Diplomasi Parlemen dan Partisipasi Masyarakat, BKSAP Dukung Aksesi Indonesia ke OECD •  Nasional - H.T. Ibrahim Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan Pada Acara Sosialisasi Empat Pilar •  Nasional - Zulfikar : Geopolitik Global Pengaruhi Fluktuasi Harga Pupuk di Indonesia •  Nasional - Tenteng RUU Adminduk ke Unpad, Dede Yusuf Buka Konsultasi Publik Bareng Akademisi •