Kasus kecelakaan lalu lintas menewaskan seorang pemuda asal Toraja yang sedang mengadu nasib mencari pekerjaan di Morowali. Niat untuk mengadu nasib akhirnya pupus lantaran mengalami nasib tragis, ia tewas setelah menjadi korban tabrak lari di Jalan Trans Sulawesi, Desa Tabo, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
Awalnya, kejadian ini dilaporkan sebagai kecelakaan lalu lintas tunggal, namun kini berkembang menjadi dugaan tabrak lari setelah dilakukan penyelidikan ulang di lokasi kejadian serta ditemukan bukti rwkaman CCTV.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Minggu dini hari, 2 Februari 2026, sekitar pukul 02.00 Wita lalu. Dua korban diketahui berboncengan mengendarai sepeda motor Honda Beat Sporty, masing-masing Natanael Patigu (21) menyetir dan Ferdianto Saputra (20) berada di belakang.
Dalam kejadian tersebut, Ferdianto Saputra, warga asal Toraja Sulawesi Selatan yang saat itu tinggal di Desa Malino, Kecamatan Soyo Jaya, Kabupaten Morowali Utara, untuk mencari pekerjaan di Morowali, mengalami luka sangat parah hingga tidak sadarkan diri di lokasi kejadian dan akhirnya meninggal dunia. Sementara Natanael Patigu, warga Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan medis dan dirujuk ke rumah sakit di Makassar.
Awalnya Diduga Kecelakaan Tunggal
Keterangan keluarga korban menyebutkan, sejak awal terdapat kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Herliwati, tante korban Ferdianto, menuturkan bahwa kondisi luka korban tidak sebanding jika hanya dikategorikan sebagai kecelakaan tunggal.

“Ferdi terluka sangat parah dan sudah tidak sadarkan diri sejak di lokasi sampai akhirnya meninggal dunia. Padahal korban ini datang ke Morowali dari Toraja dengan Maksud mencari pekerjaan,” ujar Herliwati.
Merasa ada hal yang perlu ditelusuri lebih jauh, pihak keluarga kemudian menghubungi Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang yang juga merupakan Ketua Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IKaTNUS), untuk meminta perhatian dan bantuan agar kasus tersebut ditangani secara lebih mendalam.
”Saya memberanikan diri menghunungi Pak Jenderal, dan Puji Tuhan langsung direspon dengan baik. Pak Jenderal kemudian merespon dan membantu dengan berkomunikasi langsung dengan Kapolres Morowali AKBP Zulkarnain untuk mencari bukti bukti tabrak lari,” ujarnya.
Pihak keluarga korban lainnya juga menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan respons cepat Frederik Kalalembang, yang dinilai telah membantu membuka kembali fakta di lapangan dan mendorong aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan secara lebih menyeluruh, sehingga akhirnya diketahui bahwa korban memang ditabrak di lokasi.
Pasalnya, sambung Herliwati, ini adalah kasus tabrak lari. Jika hanya kasus laka tunggal, kata Herliwati, keponakannya tidak akan bisa mendapat santunan dari Jasaraharja.
“Kami bersyukur karena ponakan kami masih mendapatkan bantuan yang meringankan biaya penguburan dari Jasa Raharja. Bantuan ini dapat kami terima berkat kepedulian dan perhatian Bapak Jenderal Frederik Kalalembang, yang dengan tulus membantu kami di tengah duka yang mendalam,” ujar Herliwati.
Frederik Kalalembang Langsung Hubungi Kapolres Morowali
Menanggapi informasi dan aduan tersebut, tanpa pikir panjang Frederik Kalalembang langsung menghubungi Kapolres Morowali AKBP Zulkarnain, S.H., S.I.K., M.H., guna memastikan penanganan perkara berjalan profesional dan transparan. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu peduli, siap menerima informasi, dan membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam persoalan-persoalan kemanusiaan dan keadilan.
“Setelah saya dihubungi pihak keluarga, saya kemudian menghubungi Kapolres Morowali AKBP Zulkarnain. Selanjutnya atas perintah Kapolres dilakukan pengecekan ulang oleh Kasat Lantas di lokasi kejadian,” ujar Frederik.
Dari hasil pengecekan ulang di TKP Jalan Trans Sulawesi Desa Tabo, Kecamatan Bahodopi, polisi menemukan fakta baru. Di sekitar lokasi terdapat tempat permainan PlayStation (PS) yang dilengkapi kamera pengawas (CCTV), serta keterangan saksi-saksi yang mengarah pada dugaan tabrak lari.
“Di lokasi ada tempat PlayStation dan terlihat CCTV. Dari situ terlihat bahwa kejadian tersebut bukan kecelakaan tunggal, tetapi tabrak lari,” ungkap Frederik.
Frederik berpesan untuk selalu berhati-hati jika merantau di daerah yang jauh dari keluarga. Selalu waspada, gunakan helm dan lengkapi surat kendaraan jika sedang berkendara.
“Jangan lupa juga untuk selalu menjalin komunikasi dengan keluarga dan sanak saudara di perantauan termasuk di Morowali. Sehingga jika ada masalah atau kendala bisa segera dibantu atau dilomunikasikan,” terangnya.
Sementara itu Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Morowali, Iptu Ni Nyoman Sukreni, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan penyelidikan ulang terkait lakalantas tersebut.
“Anggota Gakkum sudah ke TKP untuk melakukan penyelidikan ulang dan menghimpun saksi-saksi di lokasi. Beberapa saksi memang menyebutkan ada benturan keras dan ada mobil yang melaju kencang setelah kejadian,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil pendalaman sementara, status kasus tersebut berubah.
“Saat ini kami melakukan penyidikan. Awalnya dilaporkan sebagai kecelakaan tunggal, tetapi setelah diperiksa dan diselidiki, ternyata ini memang tabrak lari,” terangnya.
Kasat Lantas menambahkan, sejumlah saksi mata di sekitar lokasi juga mengaku mendengar suara benturan keras, lalu melihat kedua korban sudah tergeletak di jalan. Bahkan, ada saksi yang melihat sebuah mobil pick up datang dari arah berlawanan, kemudian melaju kencang masuk ke pemukiman warga di sekitar Desa Tabo dan menghilang.
Hingga berita ini diturunkan, Satuan Lalu Lintas Polres Morowali masih terus melakukan pendalaman, termasuk penelusuran rekaman CCTV, pemeriksaan saksi-saksi tambahan, pencarian kendaraan dan juga pelaku yang diduga terlibat dalam peristiwa tabrak lari tersebut. (*)
( sumber : lintasterkini.com )




