fraksidemokrat.org—Jakarta. Kinerja Duta Besar (Dubes) Indonesia yang berada di wilayah Konflik di Kawasan Timur Tengah layak diapresiasi. Mereka dinilai tetap berkomitmen melaksanakan tugas di wilayah-wilayah yang rawan konflik dan rentan bagi keselamatan.
Hal ini disampaikan Ketua Poksi Demokrat untuk Komisi I, DR. H. Djoko Udjianto, tentang para Dubes di wilayah konflik kawasan Timur Tengah yang pada 2 September kemarin rapat bersama Komisi I DPR RI sebagai tindak lanjut dari kunjungan Komisi I DPR RI ke Lebanon pada Juni sebelumnya.
Para Dubes yang dimaksud adalah Wajid Fauzi (Dubes RI untuk Yaman), Letjen TNI (purn) Safzen Noerdin (Irak), Djoko Harjanto (Suriah), dan Dubes RI untuk Jordania (merangkap Palestina) Teguh Wardoyo. Menurut Djoko, menjadi Dubes di wilayah konflik bukan tantangan mudah. Berdasar prioritas kepentingan nasional di luar negeri, penyelamatan WNI dalam wilayah konflik adalah urutan pertama. “Para Dubes tersebut adalah orang-orang pilihan tepat yang diangkat oleh pemerintahan sebelumnya, yaitu Presiden SBY,” kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu.
Khusus Jordania, meski tidak sedang berkonflik, wilayah ini sangat rentan karena diapit negara-negara yang tengah berkonflik. Dan meski juga bukan negara kaya, Jordania merupakan salah satu destinasi favorit para TKI. Tercatat resmi, TKI mencapai 11.000 di kawasan tersebut. Tapi diperkirakan, jumlah sesungguhnya lebih dari 40.000.
‘’Karena itu, kami minta agar Kedubes RI di Jordania meningkatkan perannya sebagai perwakilan negara yang melindungi WNI tanpa memilah apakah mereka legal atau ilegal,’’ tutur Djoko.
Sementara itu, Kedubes RI di Suriah dinilai telah secara maksimal melaksanakan tugas perlindungan warga negara. Sepanjang tahun 2012 hingga 2015, sekitar 12.000 WNI telah dipulangkan dari Suriah dengan biaya seluruhnya dari pemerintah.
Di Yaman, kendati Kedubes RI mengalami kehancuran akibat terkena serangan layanan terhadap WNI terus dilakukan. Operasional untuk sementara dipindah ke Salalah, Oman. Hingga saat ini, kedubes Yaman telah berhasil melakukan evakuasi terhadap 2.318 WNI dan juga ratusanorang asing. Diperkirakan jumlah WNI yang masih di Yaman dan belum dievakuasi saat ini berjumlah 1.117 orang.
Blusukan di Tengah Desing Peluru
Demikian juga di Irak. Di tengah situasi yang penuh dengan konflik dan ancaman terhadap keselamatan maupun keamanan, Dubes Safzen Noredin tetap mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Berdasarkan catatan yang ada, Noerdin juga memiliki semangat salesman yang tinggi dalam mempromosikan Indonesia di Irak dan membangun hubungan kedua negara menjadi lebih baik. Seperti Presiden Jokowi terkenal dengan metode blusukannya di Tanah Air, Noerdin juga dikenal WNI di Irak sebagai Dubes yang rajin blusukan di tengah desingan peluru dan ancaman ledakan bom.
Pengalaman Noerdin sebagai seorang prajurit marinir yang terbiasa dengan medan pertempuran dan peperangan menjadikannya sosok tangguh dan tidak kenal takut dalam menjalankan tugasnya demi bangsa dan negara.
“Sangat tepat Presiden SBY dulu mengisi pos Dubes Irak dari orang yang berlatar belakang tentara,” kata Djoko. ‘’Karena itu, kebijakan tersebut dapat dijadikan preseden bagi pemerintah Jokowi dalam mengisi pos-pos Dubes mendatang,” lanjutnya.
Walaupun berdasarkan Undang-Undang pengangkatan Dubes merupakan hak prerogatif Presiden, namun penempatan pos-pos Dubes harus disesuaikan dengan latar belakang yang ada, khususnya yang bukan berasal dari jalur karir diplomat. Menurut Djoki, kasus Dubes Safzen Noerdin adalah contoh penempatan yang tepat bagi Dubes yang bukan berasal dari Kemlu atau karier. ‘’Pak SBY saat itu, memilih orang yang tepat meski bukan dari Kemlu atau diplomat karier,’’ kata Djoko. (tef/ tim media)




