
Politikus Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin, mengaku kurang setuju dengan langkah pemerintah Indonesia mengeluarkan uang sebesar Rp 17 triliun untuk bergabung ke Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) besutan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Jika Rp17 triliun itu benar untuk kemanusiaan, kirim langsung ke korban perang, bangun rumah sakit, selamatkan anak-anak Palestina. Jangan lewat panggung politik para pemburu citra,” kata Didi dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin,(2/2/2026)
Lebih lanjut, Didi menambahkan, bahwa negara seharusnya berdiri bersama korban, bukan berbaris di belakang tokoh dunia yang rekam jejaknya penuh kontroversi. Menurut Didi, perdamaian sejati juga tidak lahir dari konferensi berbiaya triliunan, tapi dari keberanian moral.
“Baik melawan penjajahan, menghentikan genosida, dan menolak tunduk pada standar ganda,” imbuh Didi.
Didi menekankan, dirinya lebih memilih berdiri bersama rakyat ketimbang bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) besutan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hanya untuk menjadi ATM politik global.
“Kalau “Board of Peace” hanya jadi ATM politik global maaf kami lebih memilih berdiri bersama rakyat, daripada ikut tepuk tangan di ruang elite demi kepentingan Donald Trump,” tukas dia.
Didi mengungkapkan, dirinya sekali lagi tidak rela apabila uang Rp 17 triliun melayang demi panggung pencitraan global yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan elite dunia—tentunya Donald Trump. Ia pun mempertanyakan, tujuan dari iuran board of peace tersebut.
“Di saat rumah sakit kekurangan alat, sekolah rusak, petani menjerit, dan rakyat diperas pajak—uang negara justru disetor ke forum elite internasional yang tak pernah benar-benar menghentikan perang. Mereka bicara perdamaian di hotel bintang lima, sementara anak-anak Palestina mati di bawah reruntuhan. Resolusi dibuat, konferensi digelar, tapi bom tetap jatuh. Kalau ini yang disebut “peace board”, maka itu lebih mirip board of hypocrisy,” imbuh dia.
Lebih pahit lagi, tegas eks Anggota Komisi XI DPR RI ini , ketika Palestina dibantai, dunia Barat diam. Lalu, lanjut dia, ketika Gaza hancur para elit global malah sibuk berdebat istilah.
“Tapi ketika ada iuran triliunan untuk agenda global, semua diminta patuh—katanya demi reputasi internasional. Sejak kapan martabat bangsa diukur dari seberapa besar setoran ke klub elite?,” pungkasnya.
Laporan: Muhammad Rafik
( sumber : kedaipena.com )




