fraksidemokrat.org-Jakarta. Kontroversi kehadiran Ketua DPR Setya Novanto dan Wakilnya, Fadli Zon dalam konferensi pers calon presiden Amerika Serikat Donald Trump terus bergulir. Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), termasuk yang menilai bahwa pertemuan Setya dan Fadli dengan Trump tidak tepat.
Menurut Ibas, sebagao pimpinan badan legislatif sebuah negara, pimpinan DPR seharusnya tidak memberikan dukungan terhadap calon presiden negara lain.
‘’Harapan kami, pimpinan baik Presiden maupun pimpinan di parlemen bekerjsama dengan siapa saja yang seharusnya. Tapi tidak pas kalau ada pertemuan-pertemuan yang di luar tujuan,’’ kata Ibas.
Ditegaskan, hal tersebut tak pantas dilakukan dan menyimpang dari tujuan awal. Sebab, aturan perjalanan dinas para anggota Dewan ke luar negeri beragam tujuan dan jelas maksudnya.
‘’Yang tidak tepat itu berkunjung keluar negeri bukan pada tujuan kerjanya, itu menjadi masalah. Setiap pimpinan dan anggota Dewan tujuannya beragam, apa itu tujuan untuk pengawasan, tujuan studi banding dan lain-lain. Seharusnya itu jelas dan transparan,’’ katanya.
Beragam tudingan memang sedang diarahkan kepada Fadli Zon dan Setya Novanto terkait keputusan mereka untuk bertemu dan berpose bersama Donald Trump. Shamsi Ali, Imam Besar Masjid New York termasuk yang berbicara keras. Ia menyatakan kehadiran Setya dan Fadli tidak etis karena posisi mereka yang sangat penting di Indonesia.
‘’Ketua DPR mewakili negara. Dan Negara tidak etis mendukung salah satu calon apalagi menghadiri kampanye,’’ kata Shamsi sebagaimana dikutip berbagai media.
Menyusul kemudian, sejumlah anggota dewan akan mengadukan peristiwa tersebut ke Majelis Kehormatan Dewan. (tim media/ berbagai sumber)




