
Bhinneka Tunggal Ika bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Hal itu menegaskan, meski Indonesia memiliki keberagaman suku, ras, agama, dan budaya, semuanya merupakan satu kesatuan bangsa Indonesia.
Demikian disampaikan Anggota MPR RI Lucy Kurniasari saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lidah Kulon, Surabaya, Sabtu (7/2/2026) dihadiri 150 peserta dari ibu-ibu pengajian dan para tokoh masyarakat.
Lucy pun memaparkan beberapa contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
“Salah satunya dalam toleransi beragama. Kita menghormati teman yang sedang beribadah meskipun berbeda keyakinan. Kita juga merayakan hari besar keagamaan bersama-sama dalam suasana damai,” kata Bendahara Fraksi Partai Demokrat MPR RI itu.
“Contoh lain tercermin dalam gotong royong. Kita melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan tanpa memandang latar belakang suku atau agama tetangga,” sambung Lucy.
Dalam musyawarah, tutur Lucy, juga mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita mengambil keputusan bersama dalam rapat RT atau diskusi kelas dengan mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda,” jelas Lucy.
Berikutnya, lanjut Lucy, tercermin dalam sikap kekeluargaan.
“Kita saling membantu tetangga yang terkena musibah, berbagi makanan tanpa melihat perbedaan etnis,” ulas Anggota Komisi IX DPR RI ini.
Dalam penggunaan bahasa Indonesia, imbuh Lucy, juga mengambarkan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi pemersatu di tengah keberagaman bahasa daerah,” ulas Lucy.
Berikutnya, tambah Lucy, menghargai kebudayaan lain.
“Kita tidak mengejek pakaian adat, tarian, atau bahasa daerah lain, dan justru mempelajarinya untuk memperkaya wawasan,” tukas Lucy.
Menurut Legislator asal Dapil Jatim 1 ini, semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengutamakan persatuan, kerukunan, dan keadilan sosial di atas segala perbedaan.
“Hal ini sudah menjadi keniscayaan bagi semua anak bangsa Indonesia,” pungkas Lucy Kurniasari. LN-DAN
( sumber : liranews.com )




