
Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menilai gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih merupakan koreksi jangka pendek berbasis sentimen, bukan cerminan melemahnya fundamental ekonomi nasional.
Legislator dari Fraksi Partai Demokrat itu memandang tekanan pasar dipicu oleh respons investor terhadap pengumuman MSCI (Morgan Stanley Capital International) terkait transparansi data kepemilikan dan free float saham Indonesia.
Kebijakan MSCI berupa pembekuan sementara penyesuaian indeks dan penundaan rebalancing bersifat interim serta membuka ruang perbaikan tata kelola pasar.
"Isu ini kerap ditafsirkan berlebihan sebagai ancaman sistemik, padahal sifatnya teknis dan administratif. MSCI tidak menjatuhkan vonis, melainkan memberikan peringatan untuk pembenahan," kata Marwan melalui keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Dia menegaskan bahwa indikator makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terjaga, defisit transaksi berjalan terkendali, cadangan devisa memadai, serta rasio utang terhadap PDB tetap rendah.
"Tidak ada guncangan fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG sedalam ini. Karena itu, situasi saat ini harus dibaca sebagai ujian ketahanan pasar, bukan sinyal rapuhnya perekonomian," ucapnya menegaskan.
Marwan mengapresiasi langkah OJK dan BEI yang berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama dalam peningkatan transparansi dan penguatan tata kelola. Dia juga mengimbau investor untuk menjaga perspektif jangka menengah dan panjang.
"Pasar tidak membutuhkan kepanikan, melainkan keyakinan yang rasional. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan komitmen reformasi berkelanjutan, pasar modal Indonesia akan semakin matang dan kredibel," pungkasnya.(fat/jpnn)
( sumber : jpnn.com )




