
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (IBAS), memberikan kuliah umum di Seoul National University (SNU), salah satu institusi pendidikan paling prestisius di dunia. Kegiatan ini dihadiri oleh Dean Graduate School of International Studies (GSIS), para profesor, dosen, serta mahasiswa S1 dan S2, termasuk mahasiswa Indonesia dan Korea Selatan.
Dalam sambutannya, lulusan S3 IPB University Manajemen dan Bisnis Bidang Keuangan ini menyampaikan apresiasi atas kesempatan untuk berbagi gagasan di hadapan civitas akademika SNU. Ia membuka dengan filosofi Indonesia, “tak kenal maka tak sayang”, yang menegaskan pentingnya saling mengenal untuk membangun kepedulian dan kerja sama lintas negara.
Dr. EBY juga menekankan bahwa dunia saat ini berada dalam fase transformasi besar, di mana teknologi telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan berkreasi. Namun, menurutnya, kekuatan utama masa depan bukan hanya terletak pada teknologi, melainkan pada manusia—khususnya generasi muda.
“Generasi muda bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi perancang masa depan itu sendiri,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut di hadapan para peserta kuliah umum.
Ia menyoroti besarnya potensi generasi Z dan Alpha sebagai kekuatan global baru, yang didukung oleh kreativitas, inovasi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Dalam konteks ini, Ibas menyebut munculnya creator economy sebagai era baru, di mana ide dan kreativitas menjadi modal utama menggantikan sumber daya tradisional.
Lulusan Curtin University Finance and E-Commerce Australia ini juga mengangkat keberhasilan Korea Selatan dalam memanfaatkan budaya sebagai soft power global, melalui fenomena seperti Squid Game, BLACKPINK, serta film Parasite. Ia menilai Indonesia memiliki potensi serupa melalui kekayaan budaya dan kreativitas generasi mudanya.
Dalam paparannya, Dr. Edhie Baskoro sebagai lulusan NTU International Political Economy Singapura tersebut menegaskan pentingnya menjaga identitas nasional di tengah dunia yang semakin tanpa batas. Menurutnya, globalisasi tidak boleh menghilangkan jati diri, melainkan harus memperkuat kontribusi suatu bangsa di tingkat internasional.
Lebih lanjut, Ibas menekankan bahwa hubungan Indonesia dan Korea Selatan memiliki peluang strategis untuk diperkuat melalui kolaborasi di bidang teknologi, industri kreatif, dan ekonomi digital. Korea Selatan dinilai unggul dalam inovasi teknologi dan transformasi digital, sementara Indonesia memiliki keunggulan pada bonus demografi, energi generasi muda, serta pasar digital yang berkembang pesat.
“Kolaborasi Indonesia dan Korea bukan sekadar kemitraan, tetapi masa depan bersama yang harus kita bangun,” tegas Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Dean GSIS Sheen Seong-Ho menekankan pentingnya kolaborasi antara Indonesia dan Korea Selatan sebagai dua negara kunci di kawasan Indo-Pasifik yang tengah tumbuh pesat. Indonesia dipandang sebagai negara pemimpin di Asia Tenggara dengan potensi besar, sementara Korea Selatan menunjukkan komitmen kuat untuk terus memperluas kerja sama strategis di berbagai bidang. Berbagai inisiatif kolaboratif yang telah berjalan dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Dalam konteks tersebut, kehadiran Ibas diapresiasi sebagai representasi generasi pemimpin muda Indonesia yang berpengaruh, sekaligus momentum penting untuk berbagi gagasan dengan mahasiswa terkait kreativitas, teknologi, inovasi, identitas, dan isu politik global.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Ibas yang didampingi sang istri, Aliya Rajasa Yudhoyono, juga melakukan pertemuan di ruang Dean bersama jajaran dosen GSIS, termasuk akademisi yang turut berperan sebagai anggota National Assembly Korea Selatan. Pertemuan ini berlangsung hangat dan menjadi ruang diskusi strategis mengenai penguatan kerja sama pendidikan, politik, dan hubungan antarbangsa.
Sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan, Dean GSIS menyampaikan rencana untuk memasang foto Ibas di ‘Hall of Distinguished Guest’ SNU di GSIS, sebagai salah satu ‘Distinguished Lecturers at GSIS’ yang pernah berbagi pemikiran di kampus tersebut.
Dalam penutupnya, Dr. Edhie Baskoro menyampaikan tiga pesan utama bagi generasi muda, yaitu terus berinovasi tanpa takut gagal, menjaga dan memahami identitas budaya, serta memperkuat kolaborasi lintas negara. Ia juga mengajak mahasiswa SNU dan generasi muda Indonesia untuk berpikir global, bertindak lokal, serta menciptakan dampak nyata bagi dunia.
Di sela kegiatan, Ibas juga menyempatkan diri menyapa mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di SNU. Kehadirannya disambut antusias oleh mahasiswa yang tergabung dalam PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan). Interaksi tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membangkitkan semangat para pelajar Indonesia di perantauan untuk terus berprestasi dan menggapai cita-cita, demi memberikan kontribusi nyata bagi bangsa di masa depan.
Kuliah umum ini diharapkan dapat mempererat hubungan akademik dan kultural antara Indonesia dan Korea Selatan, sekaligus menginspirasi generasi muda kedua negara untuk menjadi motor penggerak masa depan yang kreatif, inovatif, dan kolaboratif.
( sumber : fpd-dpr.com )




