fraksidemokrat.org, Bojonegoro — Anggota DPR RI Didik Mukrianto SH., MH, hadir dan memberikan Pembekalan Pelatih Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) seKabupaten Bojonegoro (10/4/2016). Kegiatan yang dihadiri sekitar 1.000 Pelatih Setia Hati Terate dari seluruh Ranting (Kecamatan) dan Rayon (Kel/desa) di Seluruh Bojonegoro ini, dimulai pukul 08.00 WIB hingga malam, menghadirkan narasumber Ketua Majelis Luhur SHT, Ir. Wiyono; Didik Mukrianto, SH., MH (Pelatih/Warga PSHT Pengesahan 1989, Anggota DPR-FPD Jatim IX, Ketua Umum Ketum Karang Taruna Nasional), Kol. Sidiq Musthopa (Warga PSHT, Kemenpolhukam), Wahyu Subakdiono (Ketua Cabang PSHT Bojonegoro) dan Kiki F Wijaya (Motivator).
‘’Pelatihan ini selain untuk memperkuat soliditas serta solidaritas di Setia Hati Terate, juga tambahan pengetahuan dan motivasi bagi keluarga besar PSHT. Karena juga diisi orang luar yang bisa memberikan pandangan obyektif, seperti motivator professional Kiki, dari Yogya. Beliau memberikan masukan kepada PSHT,’’ kata Didik.
PSHT adalah perkumpulan yang lahir sejak zaman Hindia Belanda (cikal bakalnya muncul pada 1903), sebuah paguyuban sesepuh, pelatih dan murid ‘sekolah’ bela diri tradisional atau pencaksilat. Dikatakan Didik, PSHT lahir karena keprihatinan Ki Ngabehi Surodiwirjo terhadap nasib rakyat yang dijajah Belanda. Saat itu Ki Ngabehi membentuk persaudaraan yang anggotanya disebut ‘’Sedulur Tunggal Ketjer, sedangkan permainan silatnya disebut ‘’Djojo Gendilo’’. Salah satu murid Ki Ngabehi yang militan dan tangguh adalah Ki Hardjo Utomo. Beliaulah yang kemudian meneruskan perjuangan melawan penjajah.
Kini, warga PSHT sudah mencapai lebih dari 23 juta, tersebar di seluruh kab/kota se Indonesia, ditambah perwakilan di 18 negara. ‘’23 juta warga itu identik dengan 9% penduduk Indonesia, identik dengan perolehan pemenang pemilu legislatif 2014 yaitu 23,6 juta. Itu sekadar gambaran bagaimana besarnya perkumpulannya ini. Di PSHT, warganya berkumpul tanpa pendadaran dan ujian, tanpa mobilisasi logistik dan janji layaknya kekuatan politik. Warga PSHT lahir karena kesadaran akan pentingnya membentuk manusia berbudi luhur tahu benar dan salah,’’
Menurut Didik, PSHT saat ini bisa menjadi kekuatan moral (moral force) yang akan mengambil porsi paling depan dan panutan dalam melahirkan warga unggul dengan rasa keimanan yang utuh. PSHT melahirkan insan dengan kecerdasan spiritual sebagai bagian dari kunci sukses hidup.
‘’PSHT juga berperan sebagai institusi kontrol sosial. Perannya strategis dalam membela hak rakyat dari tindakan kesewenangan oleh siapa saja. PSHT akan melawan setiap bentuk penindasan dan pelanggaran HAM. Sebagai ksatria, warga PSHT akan terus melawan setiap pendzoliman dan penindasan dalam segala bentuk, serta akan konsisten utk membela hak rakyat,’’ tutur Didik.
Dan tak lupa, PSHT juga bisa tetap menjadi agen perubahan. Dengan ajaran, tekad, semangat, jiwa, komitmen serta konsistensi dari PSHT yang didukung kekuatan riil dan strategis--kalkulasi matematik 23. 000.000 warga--dengan memegang teguh dan melaksanakan ajaran secara sungguh-sungguh dan konsekuen, maka…”PSHT akan menjadi agen perubahan untuk Indonesia menuju Bangsa Unggul dan Juara,’’ tambah Didik.
Tak lupa, Didik mengutip falsafah dan jargon PSHT, yakni Sepiro Gedening Sangsoro Yen Tinompo Amung Dadi Coba (Seberapa besarnya kesengsaraan, kalau kita terima dengan ikhlas dan ikhtiiar, semata-mata hati jadi cobaan dan ujian hidup kita). Adapun semboyan PSHT adalah
- Selama Matahari Masih Bersinar...
- Selama Bumi Masih di huni manusia...
- Selama itu juga ...
- PSHT akan tetap Jaya, Kekal, Abadi Selama-lamanya.
(media-fpd/ n)




