Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, bukan sekadar seremonial, namun merupakan langkah strategis Indonesia dalam memperkuat diplomasi ekonomi di panggung internasional. Dalam pidato 40 menit yang disampaikan di hadapan lebih dari seribu peserta dan 61 kepala negara, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia adalah mitra setara, bukan sekadar tujuan investasi.
Bramantyo Suwondo, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, menyampaikan apresiasi atas pendekatan diplomatik yang diambil oleh Presiden. “Pidato Presiden Indonesia di WEF 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai 'titik terang global' (global bright spot) di tengah ketidakpastian dunia,” ujar Bramantyo. “Ini merupakan bukti kuat komitmen Indonesia terhadap perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi inklusif."
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menggarisbawahi pentingnya perdamaian sebagai syarat utama bagi kemakmuran, dengan mengatakan, “Tidak akan ada kemakmuran tanpa perdamaian.” Ia memaparkan rekam jejak ekonomi Indonesia yang tangguh: pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% per tahun dalam dua dekade terakhir, inflasi yang terkendali di kisaran 2%, dan defisit anggaran di bawah 3% PDB. Selain itu, Indonesia juga berhasil menjaga kredibilitas keuangan internasional, dengan catatan tak pernah gagal bayar utang. Pencapaian ini bahkan diakui oleh IMF yang menyebut Indonesia sebagai “titik terang global dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah tantangan eksternal.”
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya diplomasi bebas aktif Indonesia, yang selalu menjunjung tinggi prinsip “teman bagi semua, musuh bagi tiada satu pun.” Dalam konteks ini, beliau menyoroti peran Indonesia dalam memperkuat perjanjian perdagangan yang menguntungkan bagi semua pihak, termasuk Uni Eropa, Kanada, Inggris, serta mitra global lainnya. Penegasan tentang Danantara, sovereign wealth fund Indonesia, juga menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjadi mitra setara dalam investasi global.
Sebagai Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Bramantyo mengapresiasi pidato Presiden yang menjadikan WEF 2026 sebagai momentum strategis untuk menarik investasi berkelanjutan, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, dan mempromosikan nilai-nilai perdamaian serta supremasi hukum. “Pidato Presiden memperkuat citra Indonesia di dunia internasional dan memberikan harapan nyata bagi rakyat Indonesia bahwa kebijakan luar negeri dan ekonomi harus berdampak langsung pada kesejahteraan domestik,” ujar Bramantyo.
BKSAP DPR RI berkomitmen untuk memperkuat peran diplomasi parlementer dalam mendukung agenda Presiden. “Kami siap memperkuat kerjasama antar parlemen dengan negara mitra utama, memantau implementasi perjanjian internasional, serta aktif berdialog dengan parlemen global untuk mempromosikan perdamaian, pembangunan berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan,” tambahnya.
Bramantyo menegaskan bahwa kolaborasi erat antara eksekutif dan legislatif adalah kunci agar momentum WEF Davos 2026 tidak hanya berhenti sebagai pidato inspiratif, tetapi juga bertransformasi menjadi titik balik bagi Indonesia yang lebih berdaulat, adil, makmur, dan bermartabat. “Mari kita jadikan ini sebagai panggilan bersama untuk bekerja lebih keras, lebih jujur, dan lebih inklusif demi rakyat Indonesia dan perdamaian dunia,” tutup Bramantyo.
( sumber : fpd-dpr.com )




