Bahas Harga Energi Bergejolak di GREAT Institute, Sartono: Ketahanan Energi Kunci Selamatkan Daya Beli Rakyat

Kamis, 02 April 2026 05:25

sartono energi

Saat ini, produksi minyak nasional berada di kisaran 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan domestik mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan ini membuat Indonesia harus mengimpor dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

“Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pasokan, tetapi juga memberi tekanan besar terhadap APBN melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi,” jelasnya.

Ia menambahkan, lonjakan harga energi global memiliki efek berantai terhadap perekonomian nasional, mulai dari kenaikan biaya produksi, tarif transportasi, hingga harga kebutuhan pokok. Dampak tersebut pada akhirnya menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan.

Lebih jauh, Dr. Sartono menyoroti berbagai persoalan struktural di sektor migas, mulai dari penurunan produksi di lapangan tua, minimnya eksplorasi, hingga persoalan tata kelola seperti tumpang tindih lahan dan praktik illegal drilling.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya reformasi menyeluruh di sektor energi, salah satunya melalui percepatan penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Migas.

“Kepastian regulasi menjadi kunci untuk menarik investasi, khususnya di sektor eksplorasi yang berisiko tinggi,” ujarnya.

Selain reformasi regulasi, Dr. Sartono juga mengusulkan pembentukan petroleum fund sebagai instrumen strategis untuk menjaga stabilitas penerimaan negara di tengah volatilitas harga energi global, sekaligus mendukung pembiayaan energi masa depan.

Dalam perspektif yang lebih luas, ia menegaskan bahwa ketahanan energi tidak hanya soal ketersediaan pasokan, tetapi juga menyangkut keadilan, keberlanjutan, dan perlindungan masyarakat.

“Energi harus terjangkau, merata, dan mampu menjaga stabilitas biaya hidup masyarakat,” tegasnya.

FGD ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan kebijakan yang lebih komprehensif untuk memperkuat ketahanan energi nasional, melalui peningkatan produksi domestik, diversifikasi energi, reformasi subsidi yang lebih tepat sasaran, serta pembangunan sistem energi yang tangguh dan mandiri.

Laporan: Muhammad Rafik

( sumber : kedaipena.com )


Berita Lainnya

Nasional

Ibas: Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Jadi Ruang Belajar Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Berbudaya

Nasional

Anggota Komisi XIII DPR: KSP Harus Aktif Jadi Mata dan Telinga Presiden Prabowo

Nasional

H.T. Ibrahim Tekankan Keadilan Restoratif, Komisi III DPR Soroti KUHAP dan Konflik Agraria di Aceh

Nasional

OASA-BIPI Jadi Mitra China Garap PSEL Tangsel, Anggota Komisi XII DPR Wanti-wanti Hal Ini

Nasional

Guntur Sasono Ingatkan Ancaman Serius Jika Kesiapsiagaan Bencana Tidak Diperkuat

Nasional

IBAS: JANGAN PERNAH MERASA KECIL, MAHASISWA KIP-K JADI INOVATOR DI SEKTOR ENERGI, PANGAN, DAN TEKNOLOGI

Nasional

Jangan Berhenti di Swasembada Beras, Legislator Sebut Ketahanan Pangan Harus Holistik dan Merata

Nasional

Ekonomi Biru Harus Tingkatkan Pendapatan, Ellen Esther Pelealu: Laut RI Luas, Dompet Nelayan Kecil

Berita: Nasional - Ibas: Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Jadi Ruang Belajar Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Berbudaya •  Nasional - Anggota Komisi XIII DPR: KSP Harus Aktif Jadi Mata dan Telinga Presiden Prabowo •  Nasional - H.T. Ibrahim Tekankan Keadilan Restoratif, Komisi III DPR Soroti KUHAP dan Konflik Agraria di Aceh •  Nasional - OASA-BIPI Jadi Mitra China Garap PSEL Tangsel, Anggota Komisi XII DPR Wanti-wanti Hal Ini •  Nasional - Guntur Sasono Ingatkan Ancaman Serius Jika Kesiapsiagaan Bencana Tidak Diperkuat •  Nasional - IBAS: JANGAN PERNAH MERASA KECIL, MAHASISWA KIP-K JADI INOVATOR DI SEKTOR ENERGI, PANGAN, DAN TEKNOLOGI •  Nasional - Jangan Berhenti di Swasembada Beras, Legislator Sebut Ketahanan Pangan Harus Holistik dan Merata •  Nasional - Ekonomi Biru Harus Tingkatkan Pendapatan, Ellen Esther Pelealu: Laut RI Luas, Dompet Nelayan Kecil •