
Anggota Komisi IV DPR Bambang Purwanto menilai, minimnya minat generasi muda terjun ke sektor pertanian jadi tantangan serius di tahun 2026. Persoalan itu tak lepas dari tata kelola pertanian yang belum sepenuhnya mendorong sektor ini jadi menarik dan berkelanjutan.
Menurut Bambang, tantangan regenerasi petani tidak bisa dipisahkan dari berbagai persoalan lama yang belum tuntas. Mulai dari degradasi kesuburan tanah akibat pupuk kimia, keterbatasan benih unggul, hingga produktivitas yang stagnan di kisaran 5,2 ton per hektare.
“Kalau produktivitas rendah, kualitas hasil juga rendah, irigasi belum optimal, Bulog belum siap menampung, wajar kalau anak muda enggan bertani,” kata Bambang dalam keterangannya, Sabtu (3/1/2026).
Untuk itu, Bambang meminta Kementerian Pertanian (Kementan) memperbaiki tata kelola dari hulu ke hilir, mulai dari penanganan lahan kritis hingga peningkatan produktivitas hasil pertanian. Upaya itu juga penting untuk menjaga swasembada pangan.
Dia bilang, keberlanjutan swasembada beras akan terganggu bila persoalan-persoalan itu tidak ditangani secara serius. Karena dalam hal ini, peningkatan kualitas produksi lebih penting dibanding sekadar memperluas lahan.
“Ketika kualitas dan produktivitas meningkat, pertanian akan kembali punya daya tarik bagi generasi muda,” ucapnya.
Senada, anggota Komisi IV DPR Hindun Anisah mengatakan, krisis regenerasi petani semakin nyata. Jumlah petani terus menurun dengan rata-rata usia yang semakin menua, sementara minat generasi muda masih rendah.
“Anak muda menganggap bertani tidak menjanjikan dan kurang prestisius. Padahal, petani milenial sangat penting agar pertanian kita adaptif terhadap teknologi dan berkelanjutan,” kata Hindun.
Dia menilai, program kewirausahaan petani muda dan pendidikan pertanian perlu diperluas secara signifikan. Saat ini, cakupan program regenerasi petani masih terlalu terbatas dan belum sebanding dengan kebutuhan nasional. Karena itu, skala dan jangkauan program petani muda harus diperbesar agar dampaknya terasa nyata.
“Anggaran dari program yang tidak tepat sasaran sebaiknya dialihkan untuk edukasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas petani milenial,” tegas anggota Fraksi PKB itu.
Hindun menyebut, keberhasilan regenerasi petani akan sangat menentukan ketahanan pangan Indonesia di masa depan. Pemerintah diminta memastikan anggaran benar-benar berdampak nyata. “Regenerasi petani bukan sekadar program, tapi soal masa depan pangan nasional,” tandasnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, generasi muda memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional, termasuk di sektor pertanian. “Generasi muda harus kita persiapkan untuk mengawal Indonesia menuju negara emas,” ujar Amran dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).
Sejak diluncurkan, Program YESS telah menjangkau lebih dari 300 ribu pemuda di 19 kabupaten pada empat provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Program ini juga menyasar kelompok perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat adat. PYB
( sumber : rm.id )




