
Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, dalam sambutannya pada peringatan Hari Primata Indonesia, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian primata Indonesia yang memiliki peran vital dalam ekosistem alam. Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, flora dan fauna, termasuk spesies primata langka seperti orangutan, lutung, Yaki dan kukang, yang kini terancam punah akibat kerusakan habitat, deforestasi, dan perburuan ilegal.
Tantangan Pelestarian Primata
Meskipun Indonesia memiliki UU Konservasi dan regulasi perlindungan satwa lainnya, tantangan terhadap primata semakin kompleks. Deforestasi yang berkelanjutan dan perubahan iklim mengancam habitat mereka, sementara perburuan liar dan perdagangan satwa ilegal memperburuk keadaan. Konflik manusia-primata juga sering terjadi ketika habitat alami mereka semakin terbatas.
Pentingnya Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Untuk mengatasi tantangan ini, Edhie Baskoro, Wakil Ketua MPR RI mengajak semua pihak untuk bekerja sama, menciptakan solusi berkelanjutan. Beliau mengapresiasi langkah-langkah pemerintah, seperti moratorium deforestasi yang dimulai pada era Presiden SBY dan penguatan kebijakan konservasi di bawah Presiden Prabowo Subianto. Namun, pelestarian primata membutuhkan kerja keras lebih lanjut.
Langkah Strategis yang Diperlukan
Beberapa langkah strategis yang harus diterapkan meliputi:
1. Pemberdayaan Masyarakat Lokal melalui Ekowisata – Mengembangkan ekowisata sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat setempat tanpa merusak habitat primata.
2. Konservasi Berbasis Komunitas – Memberdayakan masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam melestarikan habitat primata melalui program berbasis komunitas.
3. Konservasi Habitat yang Integratif – Melakukan pengelolaan habitat yang lebih holistik dengan pengendalian hama dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
4. Pendidikan dan Sosialisasi – Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian primata dan ekosistem mereka.
5. Pengembangan Ekonomi Berbasis Satwa – Meningkatkan sektor ekonomi seperti biomedis dan ekowisata yang ramah lingkungan, untuk menciptakan lapangan kerja tanpa merusak alam.
6. Penegakan Hukum yang Tegas – Memperkuat penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan satwa ilegal yang terus merugikan.
7. Pengurangan Kemiskinan melalui Pembangunan Berkelanjutan – Menerapkan pembangunan berkelanjutan yang mengurangi ketergantungan masyarakat pada eksploitasi sumber daya alam yang merusak.
8. Kemitraan Internasional – Meningkatkan kerjasama internasional untuk mendukung konservasi primata dan teknologi baru dalam perlindungan satwa.
Kesatuan untuk Keberagaman Alam
Di akhir sambutannya, Wakil Ketua MPR RI mengutip pernyataan Al Gore: “Our ability to reach unity in diversity will be the beauty and the test of our civilization.” Ibas, doktor lulusan IPB University mengajak semua pihak untuk bersatu dalam keberagaman, menjaga kelestarian alam dan satwa primata Indonesia, dan memastikan pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas.
Paparan Akademisi: Primata sebagai Aset Strategis Bangsa
Dalam kesempatan ini, peserta juga mendapatkan kesempatan paparan dari Guru Besar SKHB IPB Bidang Primatologi dan Ketua PSSP IPB, Prof. Drh. Huda Shalahudin Darusman. Ia menyoroti peran riset biomedis dan bioteknologi primata dalam pengembangan vaksin, deteksi penyakit, serta inovasi kesehatan global, sekaligus mengingatkan ancaman triple planetary crisis terhadap biodiversitas. Indonesia, dengan kekayaan spesies primata terlengkap di dunia, dinilai memiliki potensi besar untuk membangun model pemanfaatan berkelanjutan yang tidak eksploitatif dan berpihak pada kepentingan nasional.
Sementara itu, Dr. Puji Riyanti dari PSSP IPB, menekankan pentingnya mitigasi konflik manusia–primata yang berbasis sains dan perencanaan wilayah. Salah satu pendekatan yang didorong ialah penanaman pakan alami di zona penyangga antara hutan dan permukiman guna mencegah primata memasuki area manusia. Ia juga membuka wacana pengendalian populasi secara beradab melalui sterilisasi dan kerja sama internasional berbasis kajian populasi. Menurutnya, primata memiliki nilai strategis, termasuk untuk riset kesehatan dan pengembangan obat, sehingga tidak boleh ditangani dengan cara-cara destruktif.
Kepala UP Taman Ragunan, drh. Endah Rumiyati, M.Si.M, menegaskan peran Ragunan sebagai “benteng terakhir” konservasi untuk menjaga kesehatan, perkembangbiakan, dan keberlanjutan biodiversitas bagi generasi mendatang. Ia juga memaparkan profil Taman Margasatwa Ragunan (TMR) yang memiliki luas 127 hektare, dengan 10,97 hektare di antaranya merupakan Pusat Primata, serta menjadi kebun binatang tertua kedua di dunia dengan usia 161 tahun. Saat ini, TMR merawat sekitar 2.280 satwa, termasuk 25 jenis primata di Pusat Primata dengan total 251 ekor.
Dukungan Legislatif untuk Penguatan Konservasi
Menanggapi diskusi tersebut, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, menyampaikan bahwa dukungan negara terhadap konservasi perlu diwujudkan secara konkret. Ia menegaskan bahwa kebutuhan dasar seperti kesejahteraan pegawai, fasilitas, pakan satwa, hingga dukungan bagi para peneliti dan ilmuwan harus menjadi perhatian bersama. Apabila terdapat kekurangan, menurutnya hal tersebut dapat dikomunikasikan untuk dicarikan solusi melalui mekanisme lembaga negara.
Sementara itu, Bambang Purwanto, S.ST., M.H. (Kapoksi Komisi IV DPR RI) menegaskan dukungan Komisi IV DPR RI terhadap upaya konservasi yang dijalankan Taman Margasatwa Ragunan. Ia menyampaikan bahwa pihak Ragunan dapat secara terbuka melaporkan apabila masih terdapat kebutuhan fasilitas maupun dukungan anggaran pemeliharaan. Hal tersebut, menurutnya, dapat dikomunikasikan dan diperjuangkan bersama di Komisi IV sesuai dengan mekanisme dan kewenangan yang berlaku.
Diskusi hari ini menjadi langkah penting untuk merumuskan kebijakan pelestarian primata yang melibatkan semua lapisan masyarakat dan sektor terkait, agar Indonesia tetap menjadi rumah yang lestari bagi seluruh satwa dan ekosistemnya.
Peninjauan Langsung ke Pusat Primata Schmutzer
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Edhie Baskoro Yudhoyono juga melakukan peninjauan langsung ke Pusat Primata Schmutzer Jakarta, kawasan seluas 13 hektare yang mengusung konsep open zoo. Ibas melihat langsung ikon koleksi satwa seperti orangutan dan gorila, bahkan sempat memberi makan gorila sambil berdialog dengan pengelola dan pembina Taman Margasatwa Ragunan. Di akhir kunjungan, ia menyerahkan dukungan fasilitas berupa tiga unit tempat sampah besar untuk menunjang kebersihan dan pengelolaan lingkungan kawasan tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pimpinan Taman Margasatwa Ragunan dan perwakilan Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB University. Dari unsur legislatif, acara ini dihadiri Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, yaitu H. Anton Sukartono Suratto, M.Si (Wakil Ketua Komisi I), Bambang Purwanto, S.ST., M.H. (Kapoksi Komisi IV), Ellen Esther Pelealu, S.E. (Komisi IV), dan Hasan Saleh (Komisi IV), sebagai wujud komitmen bersama dalam memperkuat upaya perlindungan primata dan pelestarian ekosistem Indonesia.
( sumber : fpd-dpr.com )




